PETAKA DOSA

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,
“Sesungguhnya pada kebaikan terdapat sinar pada wajah, cahaya dalam hati, kelapangan dalam rezeki, kekuatan pada badan, dan kecintaan pada hati makhluk.
Sesungguhnya pada kejelekan terdapat kegelapan pada wajah, gulita pada alam kubur dan hati, kelemahan pada badan, kekurangan dalam rezeki, dan kebencian pada hati makhluk.”

[Al-Jawâb Al-Kâfy hal. 62]

JANGAN MENUNDA

al-Harits bin Qasi an-Nakha’i rahimahullah berkata,
“Jika kamu berniat untuk melakukan suatu amal kebaikan janganlah ditunda-tunda.
Apabila setan datang ketika kamu sedang mengerjakan sholat lalu dia membisikkan,
“Kamu sedang riya’.”
Maka buatlah sholat itu semakin bertambah lama.”

(lihat Ta’thir al-Anfas, hal. 576)

TANDA MATINYA HATI

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,
“Ketika hati itu sudah tidak lagi merasakan (pedihnya) dosa, maka tidaklah sebuah luka menjadikan sakit jasad yang sudah mati.”

Salah satu parameter hati yang telah mati adalah ketika tidak lagi ada kesedihan dan penyesalan saat berbuat maksiat. Lalu bagaimana dengan hati kita?

NUTRISI HATI

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,
“Jika Anda membebani hati dengan berbagai keinginan dan kepentingan duniawi,
dan Anda mengabaikan do’a-do’a dan dzikir-dzikir yang merupakan nutrisi dan kehidupan bagi hati,
maka Anda seperti musafir yang membebani hewan tunggangannya dengan beban yang melampaui kemampuannya, namun tidak memberinya makan.
Tentu saja hewan tungganannya akan cepat loyo (lemas).”

(Fawaidul Fawaid)

TANDA RENDAH HATI

Dari Ibrahim, “Aku bertanya kepada Al-Fudhail mengenai apa itu tawadhu’.
Jawaban beliau,
‘Engkau tunduk dan patuh kepada kebenaran. Jika ada sebuah kebenaran yang engkau dengar dari anak kecil maka engkau menerimanya. Bahkan sebuah kebenaran yang engkau terima dari orang bodoh pun, engkau menerimanya.’ Sementara itu, ketika kutanya mengenai sabar dalam menghadapi musibah, jawaban beliau, ‘Dengan tidak menceritakannya.’”

(Hilyatul Auliya’, 8:91)

IMAN YANG SEMPURNA

Al-Faidh bin Ishaq berkata bahwa beliau mendengar Al-Fudhail berkata,
“Seorang hamba tidak akan menggapai hakikat iman kecuali setelah menganggap musibah sebagai nikmat, nikmat sebagai musibah, tidak peduli dengan dunia yang dinikmati dan sama sekali tidak ingin mendapatkan pujian karena ibadah kepada Allah Ta’ala yang ia kerjakan.”

(Hilyatul Auliya’, 8:94)

MANISNYA IBADAH

Ahmad bin Harb berkata:
“Aku beribadah kepada Allah selama 50 tahun, maka aku tidak mendapatkan kemanisan ibadah hingga aku meninggalkan tiga perkara:
Aku meninggalkan keridhoan manusia hingga akupun sanggup untuk berbicara dengan kebenaran
Dan aku meninggalkan persahabatan dengan orang-orang fasiq hingga akupun mendapatkan persahabatan dengan orang-orang sholih
Dan aku tinggalkan manisnya dunia hingga akupun mendapatkan manisnya akhirat.”

(Siyaru A’lamin Nubala’)